//Potensi Ekologi Sulawesi Tengah

Potensi Ekologi Sulawesi Tengah

1. Pendahuluan

Ekologi adalah pengetahuan tentang interaksi antara mahluk hidup dengan lingkungannya.  Luas Sulawesi Tengah  23.880 km persegi  dan jumlah penduduk 2,8 juta jiwa merupakan dataran unik yang mempertemukan keragaman flora dan fauna dari tiga wilayah besar, yaitu Asia, Australia, dan Pasifik (BPS, 2018).  Keunikan Sulawesi dengan keanekaragaman hayati merupakan gabungan dari pertemuan ketiga lempeng yaitu Lempeng Eurasia (bergerak ke arah tenggara), Lempeng Indo-Australia (bergerak ke arah baratlaut), dan Lempeng Samudera Pasifik (bergerak ke arah barat).

Kawasan Sulawesi memiliki keanekaragaman hayati yang unik sebagaimana digambarkan oleh Garis Wallace, karena merupakan kawasan peralihan antara Zona Asia dan Australia.  Flora dan fauna yang berada di kawasan ini berbeda dengan flora dan fauna yang berada di  kawasan Indonesia Barat dan  Indonesia Timur, karena itu memiliki nilai ekologis yang tinggi untuk pelestarian keanekaragaman hayati beserta ekosistemnya. Salah satu pusat ]keanekaragaman hayati di kawasan Sesar Koro berada di dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) yang terletak sekitar 60 km dari Kota Palu.

 

2. Kondisi Umum Kawasan Taman Nasional Lore Lindu

Secara geografis TNLL terletak pada posisi Koordinat 199°90’ – 120°16’ BTdan 1°8’ – 1°3’ LS. Berdasarkan administratif pemerintahan terletak di dua wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Donggala (Kecamatan Kulawi, Sigibiromaru, Palolo) dan Kabupaten Poso (Kecamatan Lore Utara, Lore Selatan, Lore Tengah) Propinsi Sulawesi Tengah. Di bagian utara TNLL dibatasi oleh dataran Palolo, bagian timur oleh dataran Napu, bagian selatan dibatasi dataran Bada, serta bagian barat oleh sungai Lariang dan hulu sungai Palu (lembah Kulawi).

TNLL terletak pada ketinggian 200-2610 meter di atas permukaan laut, puncak tertinggi adalah Gunung Tokosa/Rorekatimbu (2610 mdpl). Bentuk topografi bervariasi mulai dari datar, landai agak curam, curam hingga sangat curam. Lapisan tanah di daerah pegunungan umumnya berasal dari batuan asam seperti gneisses, schists dan granit yang memiliki sifat peka terhadap erosi. Formasi lakustrin banyak ditemukan pada danau di bagian timur kawasan dangan bahan endapan dari campuran batuan sedimen, metamorfosa dan granit. Bagian barat ditemukan formasi aluvium yang umumnya berbentuk kipas aluvial. Sumber bahan aluvial ini berasal dari batuan metamorfosa dan granit. Jenis tanah di TNLL bervariasi dari entisol, inseptisol, alfisol dan sebagian kecil ultisol.

Menurut klasifikasi curah hujan Schmidt dan Fergusson, bagian utara kawasan TNLL mempunyai tipe iklim C/D dengan curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 855-1200 mm/tahun. Bagian timur bertipe iklim B dengan curah hujan berkisar antara 344-1400 mm/tahun dan bagian barat bertipe iklim A dengan curah hujan rata-rata tahunan 1200 mm/tahun. Secara keseluruhan curah hujan di TNLL bervariasi dari 2000-3000 mm/tahun. Suhu berkisar antara 22°-34°C dengan kelembaban udara 98% dan kecepatan angin rata-rata 3,6 km/jam.

TNLL mempunyai fungsi tangkapan air yang penting, didukung oleh dua sungai besar yaitu sungai Gumbasa di bagian utara yang bergabung dengan sungai Palu di bagian barat serta sungai Lariang di bagian timur dan selatan. Fungsi hidrologis ini sangat besar manfaatnya bagi masyarakat sekitar kawasan dan penduduk Sulawesi Tengah umumnya (Departemen Kehutanan, 2010).

3.  Keanekaragaman Hayati

3.1. Potensi Satwa

Sampai saat ini 225 jenis burung tercatat di TNLL, termasuk 78 jenis endemik Sulawesi dan 46 jenis yang penyebarannya terbatas. TNLL adalah  rumah bagi 80% burung endemik Sulawesi dan rumah bagi 82% jenis yang cakupan/penyebarannya terbatas. Burung-burung meliputi jenis terkenal seperti Burung maleo  (Macrocephalon maleo) dan Burung julang (Rhyticeros cassidix) yakni jenis yang digunakan di dalam  logo TNLL. Di samping itu juga meliputi jenis Berkik-gunung  Sulawesi  (Scolopax celebenis), Geomalia (Geomalia Heinrichi), Taktarau iblis (Eurostopodus diabolicus), Elang Sulawesi (Spizaetus lanceolatus),  serta beberapa jenis burung yang menjadi target pengamatan untuk kegiatan pengamatan burung (bird watching) seperti malia (Malia grata), sikatan burik (Muascicapa griseisticta) dan anis punggung merah (Zoothera erytronota). Menurut beberapa pengamat burung, kawasan TNLL adalah salah satu surga untuk pengamat burung (paradise of bird watcher) di Indonesia.

Keberadaan mamalia di TNLL yang telah berhasil didokumentasikan adalah Anoa (Bubalus spp.), Babirusa (Babyrousa babirusa), dan tiga jenis Tarsius yaitu Tarsius pumilus, Tarsius lariensis dan Tarsius dentatus.  Jenis lain yang juga diketahui keberadaannya adalah Babi liar Sulawesi (Sus celebensis), Monyet Boti (Macaca tonkeana), Kuskus beruang (Ailurops ursinus) dan Musang Sulawesi (Macrogalida musschenbroekii).

Dari beberapa survei yang telah dilakukan, diperoleh informasi mengenai mamalia kecil di TNLL, antara lain kelompok tupai dan kelelawar pemakan serangga. Diantara kesenjangan informasi ini, 77 jenis sudah secara pasti tercatat di TNLL (termasuk 47 jenis endemik Sulawesi), dan keberadaan 36 jenis lainnya akan dipastikan lebih lanjut. Dengan demikian TNLL merupakan rumah bagi 89% jenis binatang menyusui Sulawesi. Jika kelelawar dikeluarkan dari data, maka ada 48 jenis binatang menyusui yang telah tercatat  dan itu meliputi 85% jenis endemik di Sulawesi.

Penelitian tentang reptil telah mengidentifikasi 24 spesies dari 13 famili. Yang paling terkenal mungkin adalah ular sanca bergaris-garis seperti jaring (Python reticulatus). Ular ini umum ditemui di TNLL di bawah ketinggian1.000 mdpl, dimana mungkin ular ini merupakan satwa predator paling terkenal dan dapat mencapai panjang lebih dari enam meter. Ular yang paling sering diamati adalah ular hitam yang tidak berbisa (Elapheerythrura dan E. janseni), walaupun banyak juga jenis ular lain yang ditemui dalam TNLL termasuk ulang anang (Ophiophagus hannah)  atau terkenal sebagai King Cobra,  dan ular pohon hijau (Ahaetulla prasina).  Taman nasional ini juga merupakan habitat untuk kura-kura darat endemik Sulawesi dan baru sedikit diketahui. Selain itu TNLL adalah habitat bagi kadal semi akuatik jenis Soa-soa Ambon (Hydrosaurus amboinensis), yang panjangnya dapat mencapai lebih dari satu meter dan dapat hidup di penangkaran sampai berumur 15 tahun.

Untuk amfibi, ada 21 spesies telah ditemukan di dalam TNLL termasuk empat jenis yang mungkin mewakili spesies baru. Sedangkan untuk invertebrata, satu-satunya kelompok yang telah dipelajari secara umum adalah Lepidoptera. Sebuah studi tentang kupu-kupu di sekitar Kamarora mengungkapkan adanya 31spesies dari empat famili.

3.2 Potensi Flora

Berdasarkan karakteristik flora (tumbuhan) penyusunnya dan faktor edafis maka pada wilayah TNLL dikenal terdapat sembilan tipe vegetasi utama, yaitu:

Rawa – wilayah-wilayah tidak terairi dengan baik pada berbagai tipe tanah dan pada beberapa ketinggian. Contoh wilayah ini adalah di sebelah timur Danau Lindu. Pohon-pohon pandan yang tinggi (>20 m), kebanyakan bercabang dengan akar-akar gantung, sering mendominasi tepi wilayah Danau Lindu ini, dengan campuran pohon-pohon Dacrydium Bagian-bagian terbuka dari rawa didominasi oleh rerumputan dan sejenis pohon sagu dan disela oleh tandan-tandan semi-parasit berbunga ungu Burmannia disticha, anggrek besar yang tumbuh di tanah (Phaius tankervilleae), tumbuh-tumbuhan yang merambat dan berbentuk kendi yang tumbuh di tanah (Nepenthes spp.) serta sebuah spesies berbunga putih dari Rhododendron (Erica.).

Hutan Karangas – hutan kering musiman pada pojok barat laut TNLL pada ketinggian rendah (300-700 mdpl). Hutan karangas hanya ditemukan pada perbatasan taman di barat laut. Hutan-hutan ini mengalami periode musim kering yang lebih dari tiga bulan dalam setahun, dan mungkin merupakan salah satu dari sedikit contoh dari hutan karangas di wilayah kepulauan di khatulistiwa. Spesies pioneer Pterospermum diversifolium (Sterc.), (Webb dan Yani, 1999) mendominasi satu plot yang dijadikan sampel di wilayah tersebut. Tidak ada wilayah hutan karangas secara utuh ditemukan dan mungkin berada dalam hutan yang kondisinya telah rusak, sehingga membuat mereka sangat rentan.

Hutan Dataran Rendah – hutan yang terairi baik di sekitar batas-batas dari TNLL di bawah 900 m mdpl. Hutan dataran rendah hanya berkontribusi kecil pada jenis–jenis vegetasi yang ditemukan di TNLL karena hampir 90% dari wilayah TNLL berada pada ketinggian di atas 900 m dpl. Spesies dari Dipterocarpaceae biasanya mendominasi wilayah yang terairi dengan baik pada lereng-lereng sedang sampai datar.

Hutan Pegunungan – hutan yang berada pada ketinggian antara 300-1.800 mdpl atau masih berada pada zona Submontana. Sebuah indikator yang jelas dari tipe hutan ini adalah kehadiran Castanopsis accuminatissima (Fagac.) atau secara lokal dikenal sebagai pohon kaha atau haleka, dan dapat dikenali secara mudah dengan banyaknya batang pohon dan batang tipis yang muncul dari dasar individu tunggal, demikian juga warna agak keemasan di bawah daunnya. Beberapa spesies lainnya umumnya diasosiasikan dengan kaha, terutama “lihu” atau “tawako” adalah Tristania whiteana (Myrta.) dan “betau” atau Calophyllum sp. (Clusi.). Spesies myrtus ditemukan pada altitud yang lebih tinggi dari kaha danterbatas pada wilayah-wilayah yang lebih kering. Batang kayunya yang licin dan terkelupas sama dengan Eucalyptus, tetapi berwarna putih kecoklatan. Kadang-kadang, spesies yang berbeda seperti Podocarpus neriifolius (Podoc.) dan Dacrydiumimbricatus (Podoc.), dapat memiliki tingkat dominasi cukup tinggi pada saat kaha tidakditemui.Secara khusus, Drymis piperta (Winte.), semak-semak kecil yangbercabang menghasilkan tandan-tandan bunga putih dan beberapa spesies dari Alpinia(Zinge.) umum ditemukan seiring dengan peningkatan kelembaban dan ketinggian.

Hutan Pegunungan Tinggi – hutan ini berada di atas ketinggian 1.800 mdpl atau disebut juga Zona Montana. Indikator yang paling mudah dari ekosistem hutan ini adalah tumbuhnya lumut tegak Dawsonia (berduri dan seperti pohon natal, lumut ini sering memiliki tinggi 10 cm). Terdapat pula penanda lain seperti bambu kecil (Begonia spp). (Begon.), Elatostema (Urtic.)dan Cyrtdanra spp. (Scrop.) cukup beragam dan sering ditemui di semak-semak di bawah kondisi-kondisi basah. Individu-individu yang terpencar dari Agathis cf. Celebica(Aurac.), Ternstroemia spp. (Theac.), Lithocarpus spp. (Fagac.), dan Phyllocladushypophyllus (Podoc.) yang menggantikan kaha dan lihu sering ditemukan pada ketinggian yang lebih rendah.

Hutan Semak Belukar – hutan yang terhalang pada tanah kering dengan akumulasi humus yang signifikan, terdapat pada beberapa ketinggian tetapi seringkali berada di atas ketinggian 1.800 m dpl.

Hutan Awan – hutan basah terhalang di atas 1.900 m dpl. Struktur hutannya hampir seluruhnya terdiri dari pohon-pohon ramping, kebanyakan berbunga merah dan putih seperti Rhododendron (Erica.), serta memiliki sebuah daun kecil seperti Eugenia (Myrta.). Kadang-kadang individu-individu yang terhalang, mencapai diameter yang besar dapat ditemukan di sini, khususnya Phyllocladus hypophyllus (Podoc.). Tumbuh-tumbuhan bambu berbunga putih dan semi parasit Burmannia sp. (Burma.), serta tumbuhan yang bentuknya seperti tempat air yang merambat Nepenthes sp. (Nepen.), banyak sekali jumlahnya.

Anthropogenik – variasi jenis yang luas yang terdiri dari dari hutan-hutan tua sekunder, biasanya berada pada ketinggian di bawah 1.500 mdpl dan biasanya berupa padang rumput yang telah dimanfaatkan manusia.

 

3.3 Sistem Penyangga Kehidupan Taman Nasional Lore Lindu

Sebagai kawasan pelestarian alam, Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) memiliki fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Pengelolaannya sendiri dilakukan dengan sistem zonasi dan dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, dan wisata alam tanpa mengurangi fungsi pokoknya.

Berbagai pengakuan yang diterima kawasan ini telah menunjukkan bahwa Lore Lindu merupakan contoh bagus untuk ekosistem teresterial dunia karena memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi, banyaknya spesies yang endemik, memiliki keunikan taksonomi yang tinggi, fenomena ekologis dan evolusi yang unik dan memiliki habitat-habitat penting spesies utama. Untuk mempertahankan fungsi utamanya, TNLL harus mampu mempertahankan ekosistem dan keanekaragaman hayati yang dimilikinya dengan tetap memperhatikan keberlangsungan manfaat sosial maupun budaya sesuai dengan aspirasi, kebutuhan serta tatanan pranata sosial yang diterima dan berlaku dalam kehidupan masyarakat setempat.

Letak, Luas, dan Batas

TNLL terletak sekitar 20 km arah tenggara dari kota Palu. Secara Geografis, TNLL yang dideklarasikan pada tahun 1993 terletak antara 119°  58’ – 120°  16’ Bujur Timur dan 108 – 103 Lintang Selatan. Secara administratif Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) berada dalam dua dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Sigi (meliputi wilayah kecamatan Palolo, Nokilalaki, Kulawi, Kulawi Selatan, Lindu, Tanambulava, Gumbasa dan Sigi Biromaru) dan Kabupaten Poso (meliputi wilayah kecamatan Lore Utara, Lore Peore,Lore Tengah, dan Lore Barat) Provinsi Sulawesi Tengah.  Berdasarkan pengelolaannya areal ini telah dikelola oleh Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu yang berkedudukan di kota Palu.  Pada bagian utara TNLL berbatasan dengan Dataran Lembah Palu dan Dataran Lembah Palolo, sebelah timur berbatasan dengan Dataran Lembah Napu, sebelah selatan dengan Dataran Lembah Bada, dan sebelah barat dengan Sungai Lariang dan Dataran Lembah Kulawi.

Sesuai Keputusan Menteri Kehutanan No.593/Kpts-II/1993, luas TNLL kurang lebih 229.000 Ha. Penunjukan tersebut dijadikan dasar untuk melakukan tata batas definitif hingga temu gelang tahun 1997 dan telah ditetapkan oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan melalui Keputusan No.464/Kpts-II/1999 tanggal 23 Juni 1999 dengan luas kawasan 217.991.18 ha atau (sekitar 1,2% wilayah Sulawesi yang luasnya 189.000 km² atau 2,4% dari sisa hutan Sulawesi yakni 90.000 km²). Perbedaan luasan ini disebabkan dengan terbentuknya dua enclave (daerah kantong di dalam kawasan), yaitu Lindu dan Besoa. Luas kedua areal enklave adalah 18.178 ha dengan perincian luas Danau Lindu 13.093 ha dan Besoa 5.085 ha.Dengan terbitnya SK Menhut Nomor : SK.869/Menhut-II/2014 tentang Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Provinsi Sulawesi Tengah maka adanya enklave Dongi-Dongi, perubahan Zona Khusus Katu menjadi enclave Katu dan beberapa wilayah lainnya sehingga luas kawasan TNLL kini menjadi 215.733,70 Ha.

Ditulis oleh : DHARMA SATYAWAN